EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN GOTONG ROYONG
(COOPERATIVE
LEARNING) UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN SISWA DALAM MENGHADAPI PELAJARAN MATEMATIKA
(Suatu studi Eksperimental pada Siswa di SMP 26 Semarang)
penelitian ini adalah siswa kelas 2 SMP 26 Semarang yang
berjumlah 32 orang yang dibagi menjadi dua kelompok masing
masing 16 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah observasi, wawancara, dan skala kecemasan.
Observasi yang dilakukan adalah observasi non
partisipan. Pertama tama siswa diberikan pre
test yang berupa “skala kecemasan”. Kemudian siswa dibagi menjadi dua kelompok, kelompok
kontrol dan kelompok eksperimen, pada kelompok eksperimen diberlakukan metode
pembelajaran gotong royong, sedangkan kelompok kontrol tidak diberlakukan. Hal
ini terjadi selama 4 kali pertemuan.
Hasil
akhir menyimpulkan bahwa
ada pengaruh pemberian perlakuan berupa Metode Pembelajaran Gotong Royong (Cooperative
Learning) terhadap kecemasan siswa dalam menghadapi pelajaran matematika.
Ada perbedaan kecemasan siswa dalam menghadapi pelajaran matematika pada kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan yang
diberikan selama 4 kali pertemuan berupa belajar matematika dengan metode
pembelajaran gotong royong dapat menurunkan kecemasan siswa ketika menghadapi
pelajaran matematika.
KECEMBURUAN
PADA KAUM HOMOSEKSUAL PRIA (GAY) DI JAKARTA
(Diilhami
dari kasus mutilasi Ryan dan observasi terhadap artist management)
Penelitian terhadap
responden yang berjumlah 3 orang dengan berjenis kelamin laki laki, memiliki
orientasi homoseksual, usia sekitar 20-40 tahun. Penelitian dilakukan dengan
menggunakan metode obervasi (non partisipan) dan wawancara dengan menggunakan
pendekatan kualitatif.
à Subyek 1 menyadari ketertarikannya sesama jenis sejak usia 10
tahun, subyek 2 menyadari ketika 16 tahun.
à subyek 2 merespon lebih cepat dengan menjawab telah
melakukan aktivitas seksual dengan sesama jenis sejak usia 9 tahun.
à subyek 3 di usia 15 – 18 tahun.
Dari berbagai aspek
yang di lihat subjek diketahui
bahwa terdapat semua faktor potensial yang menyebabkan mereka menjadi gay
seperti terdapat pada model teori. Faktor potensial itu adalah ketidakadaan
figur ayah (ayah sebagai tokoh negatif),
terisolasi dari lingkungan sekitar, perasaan rendah diri, jenis
permainan saat masih kecil, dan gaya hidup.
Dapat di lihat hasil penelitian seputar
kecemburuan tersebut terdapat fakta bahwa keseluruhan subyek mengalami hurt (luka), fear and anxiety
(takut dan cemas). Sedangkan untuk anger (marah), hanya subyek 2 dan
subyek 3 yang mengalaminya. Selanjutnya untuk tipe kecemburuan terbagi 2 (dua) yaitu
Reactive jealousy & Suspicious jealousy
JURNAL
KOHESIFITAS SUPORTER TIM SEPAK BOLA PERSIJA “Bayu Wicaksono” (Universitas
Gunadarma).
Persija
adalah sebuah klub sepak bola yang terletak di Jakarta. Persija berdiri pada
tanggal 28 November 1928 dan memiliki julukan “Macan Kemayoran”. Persija singkatan dari Persatuan Sepak Bola Jakarta adalah sebuah klub sepak
bola. Suporter Persija dikenal dengan
sebutah “The Jakmania”. Pada awalnya The
Jak mania hanya terdiri dari 100 orang, dengan pengurus sebanyak 40 orang. Dalam kelompok The Jakmania terdapat kelompok kelompok
seperti Jak On Air yaitu kelompok yang bekerja sama dengan “Radio Utan
Kayu” yang setiap seminggu sekali mendatangkan pemain pemain Persija. Jak Angel
yaitu kelompok perempuan yang mendukung
tim Persija. Jak Online yaitu kelompok yang mempunyai kegiatan untuk
memberikan fasilitas informasi tentang Persija melalui jalur internet. Jak Scooter yaitu
kelompok pengguna kendaraan vespa yang mendukung Persija, dan Jak Adventure adalah
kelompok suporter yang mendukung persija saat bertanding di kandang lawan (Wikipedia,
2007).
à
Kelompok “The Jak Kukusan” merupakan salah satu kelompok
kecil yang tidak tercatat berdasarkan pembagian
kelompok diatas. Faktor faktor yang menyebabkan kohesivitas kelompok
adalah : Kelangsungan keberadaan
kelompok (berlanjut untuk waktu yang lama) dalam arti keanggotaan dan peran
setiap anggota, Adanya tradisi, kebiasaan, dan adat, Ada organisasi dalam
kelompok, Kesadaran diri kelompok, yaitu setiap anggota
tahu siapa saja yang termasuk dalam kelompok, bagaimana caranya ia berfungsi
dalam kelompok,bagaimana struktur dalam kelompok, dan sebagainya, Pengetahuan
tentang kelompok, dan Keterikatan (attachment) kepada kelompok.
kohesivitas
kolompok adalah saling tertariknya atau saling senangnya anggota satu dengan
yang lain dalam kelompok.
Faktor
faktor yang menyebabkan Kohesivitas yaitu,
dengan adanya latar belakang kelompok yaitu teman nongkrong (jarak rumah yang
berdekatan menyebabkan anggota mudah bertemu) ,
kegiatan kelompok seperti main bola bareng (setiap anggota kelompok memiliki
kegiatan sehari hari bersama kelompok seperti main bola bareng dan aktivitas
tersebutdapat meningkatkan kekompakan). kebersamaan kelompok seperti proses
menumbuhkan keterikatan (pada saat berkumpul,
anggota kelompok bercanda gurau dan tertawa bersama sehingga aktifitas ini
dapatmeningkatkan keterikatan antara anggota kelompok Walgito (2007).
"blog semau gw" ini ternyata acak yang berisi...salam SOBAT !
BalasHapushahaha,, bisa jja mas seta :)
BalasHapus