Sabtu, 29 September 2012

Analisa Jurnal Dalam Psikodiagnostik Observasi II


EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN GOTONG ROYONG (COOPERATIVE LEARNING) UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN SISWA DALAM MENGHADAPI PELAJARAN MATEMATIKA (Suatu studi Eksperimental pada Siswa di SMP 26 Semarang)

penelitian ini adalah siswa kelas 2 SMP 26 Semarang yang berjumlah 32 orang yang dibagi menjadi dua kelompok masing masing 16 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan skala kecemasan. Observasi yang dilakukan adalah observasi non partisipan. Pertama tama siswa diberikan pre test yang berupa  skala kecemasan. Kemudian siswa dibagi menjadi dua kelompok, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, pada kelompok eksperimen diberlakukan metode pembelajaran gotong royong, sedangkan kelompok kontrol tidak diberlakukan. Hal ini terjadi selama 4 kali pertemuan.
Hasil akhir menyimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian perlakuan berupa Metode Pembelajaran Gotong Royong (Cooperative Learning) terhadap kecemasan siswa dalam menghadapi pelajaran matematika. Ada perbedaan kecemasan siswa dalam menghadapi pelajaran matematika pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan yang diberikan selama 4 kali pertemuan berupa belajar matematika dengan metode pembelajaran gotong royong dapat menurunkan kecemasan siswa ketika menghadapi pelajaran matematika.

KECEMBURUAN PADA KAUM HOMOSEKSUAL PRIA (GAY) DI JAKARTA
(Diilhami dari kasus mutilasi Ryan dan observasi terhadap artist management)

Penelitian terhadap responden yang berjumlah 3 orang dengan berjenis kelamin laki laki, memiliki orientasi homoseksual, usia sekitar 20-40 tahun. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode obervasi (non partisipan) dan wawancara dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
à Subyek 1 menyadari ketertarikannya sesama jenis sejak usia 10 tahun, subyek 2 menyadari ketika 16 tahun.
à subyek 2 merespon lebih cepat dengan menjawab telah melakukan aktivitas seksual dengan sesama jenis sejak usia 9 tahun.
à subyek 3 di usia 15 – 18 tahun.
Dari berbagai aspek yang di lihat subjek diketahui bahwa terdapat semua faktor potensial yang menyebabkan mereka menjadi gay seperti terdapat pada model teori. Faktor potensial itu adalah ketidakadaan figur ayah (ayah sebagai tokoh negatif),  terisolasi dari lingkungan sekitar, perasaan rendah diri, jenis permainan saat masih kecil, dan gaya hidup.
Dapat di lihat hasil penelitian seputar kecemburuan tersebut terdapat fakta bahwa keseluruhan subyek mengalami hurt (luka), fear and anxiety (takut dan cemas). Sedangkan untuk anger (marah), hanya subyek 2 dan subyek 3 yang mengalaminya. Selanjutnya untuk tipe kecemburuan terbagi 2 (dua) yaitu Reactive jealousy & Suspicious jealousy

JURNAL KOHESIFITAS SUPORTER TIM SEPAK BOLA PERSIJA “Bayu Wicaksono” (Universitas Gunadarma).

Persija adalah sebuah klub sepak bola yang terletak di Jakarta. Persija berdiri pada tanggal 28 November 1928 dan memiliki julukan “Macan Kemayoran”. Persija singkatan dari Persatuan Sepak Bola Jakarta adalah sebuah klub sepak bola. Suporter Persija dikenal dengan sebutah The Jakmania. Pada awalnya The Jak mania hanya terdiri dari 100 orang, dengan pengurus sebanyak 40 orang.  Dalam kelompok The Jakmania terdapat kelompok kelompok seperti Jak On Air yaitu kelompok yang bekerja sama dengan “Radio Utan Kayu” yang setiap seminggu sekali mendatangkan pemain pemain Persija. Jak Angel yaitu kelompok perempuan yang mendukung tim Persija. Jak Online yaitu kelompok yang mempunyai kegiatan untuk memberikan fasilitas informasi tentang Persija melalui jalur internet.  Jak Scooter yaitu kelompok pengguna kendaraan vespa yang mendukung Persija, dan Jak Adventure adalah kelompok suporter yang mendukung persija saat bertanding di kandang lawan (Wikipedia, 2007).
à Kelompok “The Jak Kukusan” merupakan salah satu kelompok kecil yang tidak tercatat berdasarkan pembagian kelompok diatas. Faktor faktor yang menyebabkan kohesivitas kelompok adalah   : Kelangsungan keberadaan kelompok (berlanjut untuk waktu yang lama) dalam arti keanggotaan dan peran setiap anggota, Adanya tradisi, kebiasaan, dan adat, Ada organisasi dalam kelompok, Kesadaran diri kelompok, yaitu setiap anggota tahu siapa saja yang termasuk dalam kelompok, bagaimana caranya ia berfungsi dalam kelompok,bagaimana struktur dalam kelompok, dan sebagainya, Pengetahuan tentang kelompok, dan Keterikatan (attachment) kepada kelompok.
kohesivitas kolompok adalah saling tertariknya atau saling senangnya anggota satu dengan yang lain dalam kelompok.

Faktor faktor yang menyebabkan Kohesivitas yaitu, dengan adanya latar belakang kelompok yaitu teman nongkrong (jarak rumah yang berdekatan menyebabkan anggota mudah bertemu) , kegiatan kelompok seperti main bola bareng (setiap anggota kelompok memiliki kegiatan sehari hari bersama kelompok seperti main bola bareng dan aktivitas tersebutdapat meningkatkan kekompakan). kebersamaan kelompok seperti proses menumbuhkan keterikatan (pada saat berkumpul, anggota kelompok bercanda gurau dan tertawa bersama sehingga aktifitas ini dapatmeningkatkan keterikatan antara anggota kelompok Walgito (2007).


2 komentar: